Nafas Perjuangan

Just another WordPress.com weblog

Arsip untuk Februari 2010

Saudara

tinggalkan komentar »

Akhi, ta’alau nu’minu saa’ah…

Kalimat itu begitu lembut, halus, dan nikmat untuk didengar. Dalam setiap kata terpancar keikhlasan. Wajah yang menyerukannya menunjukkan keimanan. Nada suaranya…akan menyentuh lubuk hati yang paling dalam, mendorong sang ruh untuk menjawab panggilan keimanan tersebut. Ya, ia adalah panggilan keimanan, “Akhi, ta’alau nu’minu saa’ah… Saudaraku, mari kita beriman sejenak…”

Ikhwahfillah rahimakumullah, rasanya tidak ada yang paling nikmat di dunia ini ketika mengisis waktu luang kecuali bercengkerama bersama keluarga, saudara, atau kerabat… Tetapi mata batin yang penuh keikhlasan dari seorang Al Faruq, Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, menyatakan tidak ada yang melebihi kenikmatan dari berkumpul bersama saudara-saudara seiman. Benarkah itu? wahai kalian yang mengikuti halaqoh, apa yang kalian rasakan saat bertemu dan berkumpul bersama saudara-saudara dalam tali keimanan? Apakah sama atau mendekati apa yang dikatakan Al Faruq? atau ia hanya sebuah majelis ilmu biasa yang kau datangi setiap pekan guna transfer ilmu semata?

Betapa menyedihkan kalau ia hanya menjadi rutinitas biasa atau pengisi waktu luang belaka. Apa tidak ada sense? apa tidak ada dzauq tarbawi yang kalian rasakan? Apa tidak ada kerinduan yang sangat seteklah tiap pekannya hanya satu kali anda semua bertemu? Jika demikian, apa artinya anda berada di sana?!

Sungguh akhi, aktivitas yang kalian lakukan tanpa ruhiyah, tanpa makna, tanpa dzauq (sense) seperti itu tidak akan mendatangkan manfaat sedikit pun. Pernahkah kalian berpikir, bahwa tidak ada tempat atau sarana, bahkan keluarga! yang mau dan bisa memberikan nasihat, “janganlah engkau berbuat ma’shiat, janganlah engkau membuka aurat, janganlah engkau melanggar larangan-larangan Allah”? Maka jawaban yang paling jujur dari mayoritas kalian adalah TIDAK.

Bukankah “…teman-teman akrab pada hari itu saling bermusuhan, kecuali mereka yang bertaqwa” (QS. Az Zukhruf:67)? Baik itu orangtua, keluarga, kerabat, sahabat dan dengan siapapun kalian berhubungan baik, sebaik apapun itu, jika tidak dilandasi ketaqwaan maka ia adalah musuh kita di akhirat kelak. Sadarilah, saudara-saudara kalian yang hakiki adalah saudara-saudara muslim yang bersama-sama beriman. Hubungan darah tidak ada artinya dibanding hubungan keimanan. Mush’ab bin Umair dan Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu’anhumaa adalah bukti nyata, mereka tidak menukar keimanan dengan kenyamanan hidup bersama orangtua mereka. Benarlah Umar bin Khaththab, radhiyallahu ‘anhu.

Bukankah itu yang kalian baca dalam doa Rabithah? Kalian menyatakan bahwa hati-hati kalian berpadu bersama, berhimpun dalam naungan akan kecintaan pada Allah. Bertemu dalam membangun ketaatan, bersumpah setia dalam perjuangan da’wah, berjuang bersama menegakkan syariatNya. Maka Ya Allah, kuatkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya, tunjukilah jalan bagi kami. Terangilah dengan cahayaMu, yang tiada pernah padam. Ya Rabb, bimbinglah kami… Lapangkanlah dada kami dengan karunia iman dan indahnya tawakkal padaMu. Hidupkanlah kami dengan ma’rifah kepadaMu, matikanlah kami dalam keadaan syahid di jalanMu. Engkaulah Yang Maha Melindungi dan Penolong.

uhibbukum fillah…

Ditulis oleh ibnrusyd

Februari 14, 2010 pada 2:28 am

Ditulis dalam Uncategorized

Jeritan Hati

tinggalkan komentar »

Takut, gelisah, dan khawatir. begitulah hati yang jauh dari sentuhan iman. Baik disadari maupun tak disadari, dirimu digerogoti kegelapan dunia fana. Jiwanya menolak cahaya Allah. Akalnya menipu dirinya sendiri. Dikiranya surga begitu mudah diraih.

Tidakkah mereka membaca, “Apakah manusia mengira mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘kami telah beriman’ dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan mengetahui orang-orang yang berdusta” (QS. Al-’Ankabut:2-3)

Di masa tua engkau baru akan bersedih, menyesali kesempatan diri untuk mempelajari dan mengamalkan Islam secara nyata di masa muda dulu. Sungguh surga itu begitu jauh saat menyadari, betapa banyaknya ayat-ayat Allah yang kau abaikan peringatannya! Betapa banyak larangan-larangan Allah yang kau langgar! Betapa banyak hukumNya yang kau perolok-olok. Engkau akan merasakan Neraka begitu nyata seolah-olah ia dihamparkan di depan matamu. Apakah kalian tidak berpikir?

Saudaraku, tidakkah kalian mendengar suara jeritan hati yang menginginkan kau isi dan sentuh dengan celupan Allah? “Shibghah(celupan) Allah? Siapa yang lebih baik Shibghahnya daripada Allah? Dan kepadaNya kami menyembah” (QS. Al-Baqarah:138)

Semoga engkau juga ingat dan menenangkan jeritan hatimu dengan “…Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”(QS. Ar-Ra’d:28)

Ditulis oleh ibnrusyd

Februari 13, 2010 pada 6:19 am

Ditulis dalam Uncategorized

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.