Merekat Hikmah

Waktu

with one comment

mencari jawaban atas sebuah pertanyaan memang tidak mudah. Ia hanya bisa didapatkan jika kita benar-benar tekun mencarinya, berusaha keras memikirkan pemecahannya dan mau berkorban untuk meraih tujuannya. Upaya demi upaya yang kita kerahkan akan menjadi nilai tersendiri yang tiada bandingannya di dunia ini. Andaikan penduduk bumi dan seisinya ini mengetahui..betapa besar amanah yang mereka pikul, niscaya mereka tidak akan bersandar kecuali pada Allah semata. Inilah renunganku malam ini.

Perjalanan hidup yang telah kita tempuh sangatlah panjang. Ya, sudah demikian panjangnya. Namun tentu kita juga menyadari bahwa singkat sekali rasanya. Semua yang kita lalui lewat begitu saja dalam sekejap, detik, menit, jam, hari, hingga tahun. Memori manusia pun tidak mampu menampung semuanya. Selalu ada serpihan-serpihan kenangan yang mau tidak mau harus disingkirkan walau cuma sejenak, karena manusia dapat membukanya kembali sekalipun itu sudah terlupakan oleh usia.

Saudaraku, waktu sangatlah kejam. Ia tidak memedulikan sekitarnya dan terus maju tanpa ada yang mampu menghalangi. Ia tidak berperasaan. Ia tidak berhenti walau sejenak untuk menolong manusia yang menyia-nyiakan waktunya. Ia tidak akan membiarkan kita menyesal terlebih dulu saat Izrail menjemput sehingga Allah mengampuni kita baru bergulir kembali. Sekali-kali tidak! Ia akan terus berputar seiring roda zaman sampai Allah mengutus Israfil menghentikan waktu.

Semoga kita termasuk orang-orang yang menghargai dan menghormati waktu. Agar ia pun menghargai dan menghormati kita. Agar Allah menjaga waktu yang kita miliki di dunia. Agar “Waktu yang kekal” di Jannah Firdaus menemani kita di Akhirat nanti. Amin.

Written by ibnrusyd

September 7, 2010 at 6:59 pm

Ditulis dalam Uncategorized

Bakarlah!

leave a comment »

Bakar… bakarlah…

simbol-simbol penindasan

lambang-lambang perusakan

janji-janji penuh dusta

prasasti-prasasti penuh tipu daya

Bakar…bakarlah…

kereta-kereta kesombongan

singgasana keangkuhan

istana-istana rapuh tanpa cahaya kepedulian

Maka bangkitlah

Bangkitlah kalian wahai pemuda

majulah kalian wahai anak-anak yang tertindas

angkat kepalan tangan kalian

Bakar… bakarlah…

Written by ibnrusyd

Mei 12, 2010 at 6:53 am

Ditulis dalam Uncategorized

Tunggulah!

with one comment

Pedang yang tumpul tidak dapat memenggal musuh

Perisai yang rusak tidak dapat mengahalau serangan lawan

Naluri yang terlampau tajam dapat membodohi diri

keyakinan yang terlalu kuat dapat menyesatkan jiwa

ketika pedang tidak dipertajam dengan keimanan

ketika perisai tidak diperkuat dengan kesabaran

ketika naluri bergerak tanpa kerendahan hati

Ketika keyakinan dihimpit dengan kesombongan akal

Maka tunggulah…

Tunggulah kehancuranmu…

Written by ibnrusyd

Mei 12, 2010 at 6:46 am

Ditulis dalam Uncategorized

Membuka Mata…

leave a comment »

Bertumpuk-tumpuk kebobrokan

tak ada yang melihat

tak ada yang sadar

cahaya kebenaran ditutupi gelapnya dusta

kaum terlaknat bersorak sorai

dunia fana menipu jiwa

terperosok dalam gulita

Segelintir manusia maju berperang

mengharap kemenangan, kejayaan, keabadian

Menyerukan semangat perjuangan

Membangkitkan gelora, meruntuhkan angkara

Mengobarkan api

Menuju persatuan!

Written by ibnrusyd

Mei 12, 2010 at 6:40 am

Ditulis dalam Uncategorized

Seruan Indah…

leave a comment »

Kepada kalian yang terkatung-katung dalam keraguan

Apakah dunia begitu mudah melenakan?

Kepada kalian yang hatinya gundah gelisah

Tidakkah panggilan Allah melantun indah?

Bangkit! Dan songsonglah surga!

Pintunya kini berhiaskan pedang dan panasnya timah!

Dari fana sesaat… menuju keabadian!

Allahu Akbar!

(Speech dalam Nasyid Generasi Harapan, Izzatul Islam)

Written by ibnrusyd

Mei 12, 2010 at 6:33 am

Ditulis dalam Uncategorized

Shallu ‘Alaih…

leave a comment »

Mengenang pahlawan sejati nan hakiki pembawa risalah Rabb yang Sejati…

Ada banyak tokoh sejarah dalam dunia ini. Banyak pahlawan-pahlawan yang mengukir namanya di sejarah peradaban manusia.Nama-nama mereka terabadikan dalam buku-buku, monumen-monumen, dan lain sebagainya. Tapi adakah, di antara sekian banyak tokoh dalam sejarah, yang dapat menyamai Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam? Ya, Anda sudah bisa menjawabnya, tidak.

Tidak pernah ada manusia yang tercatat sejarah hidupnya begitu lengkap dari awal kelahirannya, bahkan sebelum itu, hingga akhir hayatnya. Risalah yang ia emban pun tidak berhenti menghiasi dunia ini. Michael Hart pun mengakui, dalam buku 100 tokoh paling berpengaruh di dunia, namanya terukir sebagai orang nomor 1!

Kenapa? Michael Hart menjawab, “karena Muhammad adalah pemimpin kolektif”. Ya, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memang pemimpin kolektif. Kepemimpinannya ada dalam segala bidang atau aspek, mulai dari keluarga, masyarakat, dalam perdagangan, perekonomian, dalam ibadah, fiqh, kenegaraan. Lengkap! Tidak ada manusia lain yang demikian dahsyat!

Saudaraku, di masa kini, para pengikut (lebih tepatnya yang mengaku) Rasulullah tidaklah mengikuti sunnah beliau. Mereka katakan diri mereka mencintai Rasulullah. Mereka nyatakan kebesaran dan keagungan Rasulullah. Tapi apa yang mereka berikan? Apa yang mereka tunjukkan?!

Pembunuhan sunnah, bukan penghidupannya. Kedustaan cinta, bukan bukti cinta yang nyata. Kemunafiqan, bukan kebenaran. Menutup-nutupi, bukan menyampaikan. Tidakkah mereka membaca, “Katakanlah (Muhammad) ‘jika kamun mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu’. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang” (QS. Ali Imran:31)

Di masa modern ini, kita mendustai risalah yang dikabarkan kepada kita, lantas apa bedanya kita dengan Abu Lahab yang menyumpahi Rasulullah, “Tabban Laka yaa Muhammad! Alihaadza jama’tanaa? Celaka Engkau wahau Muhammad! Hanya untuk urusan ini engkau mengumpulkan kami?” saat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengumpulkan kaum Quraisy dan menyerukanntauhid kepada mereka. Tapi apa yang akan kita dapat? Sama seperti Abu Lahab yang dibalas oleh Allah swt., “Tabbat Yadaa Abii Lahabin Wa tabb…”

Pernahkah kita menangis barang sejenak, saat merenungi sirah Nabi? pernahkah kta bersedih akan penderitaan yang beliau alami? “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman” (QS. At-Taubah:128)

Dia, yang telah dicaci maki dan dihina. “Ukhruj Anta Yaa Muhammad! Pergi kau hai Muhammad!” , begitu orang-orang bani Tha’if bersikap terhadap beliau. Dilempari batu, kotoran unta… Sudah keluar tiga macam air dari diri Rasulullah. Air keringat, air mata, dan darah. Tapi jangankan darah, tidak sedikitpun air mata yang menetes atau keluar sedikit saja dari kita untuknya. Saudaraku, benarkah kecintaan kita pada Rasulullah? Bukankah rasulullah menyatakan bahwa tidak akan mendapatkan syafaat dari beliau jika masih ada manusia lain yang dicintai melebihinya?

Semoga hati-hati kita tersentuh saat merenungkan perjalanan hidup beliau. Tergerak untuk mengikuti jejak langkahnya. Merindukan tegaknya syariat di bumi Allah dan hidupnya sunnah-sunnah beliau. Shallu ‘Alaih…

Written by ibnrusyd

Maret 3, 2010 at 4:32 am

Ditulis dalam Uncategorized

Saudara

leave a comment »

Akhi, ta’alau nu’minu saa’ah…

Kalimat itu begitu lembut, halus, dan nikmat untuk didengar. Dalam setiap kata terpancar keikhlasan. Wajah yang menyerukannya menunjukkan keimanan. Nada suaranya…akan menyentuh lubuk hati yang paling dalam, mendorong sang ruh untuk menjawab panggilan keimanan tersebut. Ya, ia adalah panggilan keimanan, “Akhi, ta’alau nu’minu saa’ah… Saudaraku, mari kita beriman sejenak…”

Ikhwahfillah rahimakumullah, rasanya tidak ada yang paling nikmat di dunia ini ketika mengisis waktu luang kecuali bercengkerama bersama keluarga, saudara, atau kerabat… Tetapi mata batin yang penuh keikhlasan dari seorang Al Faruq, Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, menyatakan tidak ada yang melebihi kenikmatan dari berkumpul bersama saudara-saudara seiman. Benarkah itu? wahai kalian yang mengikuti halaqoh, apa yang kalian rasakan saat bertemu dan berkumpul bersama saudara-saudara dalam tali keimanan? Apakah sama atau mendekati apa yang dikatakan Al Faruq? atau ia hanya sebuah majelis ilmu biasa yang kau datangi setiap pekan guna transfer ilmu semata?

Betapa menyedihkan kalau ia hanya menjadi rutinitas biasa atau pengisi waktu luang belaka. Apa tidak ada sense? apa tidak ada dzauq tarbawi yang kalian rasakan? Apa tidak ada kerinduan yang sangat seteklah tiap pekannya hanya satu kali anda semua bertemu? Jika demikian, apa artinya anda berada di sana?!

Sungguh akhi, aktivitas yang kalian lakukan tanpa ruhiyah, tanpa makna, tanpa dzauq (sense) seperti itu tidak akan mendatangkan manfaat sedikit pun. Pernahkah kalian berpikir, bahwa tidak ada tempat atau sarana, bahkan keluarga! yang mau dan bisa memberikan nasihat, “janganlah engkau berbuat ma’shiat, janganlah engkau membuka aurat, janganlah engkau melanggar larangan-larangan Allah”? Maka jawaban yang paling jujur dari mayoritas kalian adalah TIDAK.

Bukankah “…teman-teman akrab pada hari itu saling bermusuhan, kecuali mereka yang bertaqwa” (QS. Az Zukhruf:67)? Baik itu orangtua, keluarga, kerabat, sahabat dan dengan siapapun kalian berhubungan baik, sebaik apapun itu, jika tidak dilandasi ketaqwaan maka ia adalah musuh kita di akhirat kelak. Sadarilah, saudara-saudara kalian yang hakiki adalah saudara-saudara muslim yang bersama-sama beriman. Hubungan darah tidak ada artinya dibanding hubungan keimanan. Mush’ab bin Umair dan Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu’anhumaa adalah bukti nyata, mereka tidak menukar keimanan dengan kenyamanan hidup bersama orangtua mereka. Benarlah Umar bin Khaththab, radhiyallahu ‘anhu.

Bukankah itu yang kalian baca dalam doa Rabithah? Kalian menyatakan bahwa hati-hati kalian berpadu bersama, berhimpun dalam naungan akan kecintaan pada Allah. Bertemu dalam membangun ketaatan, bersumpah setia dalam perjuangan da’wah, berjuang bersama menegakkan syariatNya. Maka Ya Allah, kuatkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya, tunjukilah jalan bagi kami. Terangilah dengan cahayaMu, yang tiada pernah padam. Ya Rabb, bimbinglah kami… Lapangkanlah dada kami dengan karunia iman dan indahnya tawakkal padaMu. Hidupkanlah kami dengan ma’rifah kepadaMu, matikanlah kami dalam keadaan syahid di jalanMu. Engkaulah Yang Maha Melindungi dan Penolong.

uhibbukum fillah…

Written by ibnrusyd

Februari 14, 2010 at 2:28 am

Ditulis dalam Uncategorized